Keterampilan Mengelola Konflik Kerukunan Antar Umat Beragama

   2022-10-24     Dilihat : 152

Seni menjaga kerukunan antar umat beragama adalah kemampuanmengelola konflik. Konflik adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan sosial. Setiapindividu yang berbeda keyakinan memiliki risiko berbentukan kepentingan. Konflikbisa saja terjadi di mana saja. Pada konteks unit sosial paling kecil yaknikeluarga juga bisa memicu konflik. Apabila konflik dapat diselesaikan secara efektifmaka akan konstruktif pada kehidupan sosial.

Konflik berbeda dengan kekerasan. Kekerasan adalah konflikyang tidak dikelola dengan baik dan terlembaga. Kekerasan adalah penggunaankekuasan atau kekuatan untuk memaksakan kehendak kepada pihak lain.

Agar konflik tidak menjadi kekerasan, maka dibutuhkan tokohmasyarakat. Seorang pemimpin yang berakar, bertumbuh, dan berinteraksi bersamamasyarakat. Bisa saja berjarak secara formal tapi bisa pula membaur tanpa sekatdengan masyarakat. Kehadiran tokoh masyarakat bisa menjadi bagian pentingmengelola konflik kerukunan antar umat beragama.

Mengingat pentingnya keberadaan tokoh masyarakat ini,dibutuhkan keterampilan yang sebaiknya dipenuhi. Keterampilan bisa saja dilatihdan atau keturunan secara biologis oleh keturunannya yang sedari awal telahdituakan di komunitas yang beragam.

Berikut ini lima yang harusnya menjadi perhatian tokohmasyarakat agar bisa menjadi bagian strategis dalam pengelolaan konflik;

1)     Komunikasi efektif. Ragam interaksi bersamamasyarakat harus mempertimbangkan kebermanfaatan atau kepentingan bersama.Kemampuan memposisikan setiap kelompok sebagai pemenang merupakan tujuan darijenis keterampilan ini.

2)     Pemetaan konflik. Tokoh masyarakat harus mampumelihat risiko konflik di tengah masyarakat. Individu dan atau kelompok yangkemungkinan menjadi pemicu harus dimitigasi secara awal

3)     Empati dan mendengarkan secara aktif. Hearing danlistening adalah dua kata yang memiliki arti kata yang sama tetapi memilikipemaknaan yang berbeda. Hearing dimaksudkan mendengar tanpa memperhatikansedang listening bermakna mendengar dan memperhatikan. Tokoh masyarakat harusmampu melibatkan emosi saat mengelola konflik

4)     Framing dan re-framing konflik. Tokoh masyarakatharus mampu menyeleksi berita secara tepat. Mendengar kedua belah pihak adalahcara terbaik sebelum mengambil keputusan

5)     Negosiasi. Kemampuan membingkai keputusan tanpamenafikan pesan orang lain. Tokoh masyarakat berada secara efisien di tengahperbedaan

6)     Mediasi. Tokoh agama bisa menjadi mediatormengurai perbedaan tajam antara kedua pihak yang memiliki pandangan berbeda. Ritmediskusi harus bisa diatur dan dikuasai agar tetap bisa menjadi penengah.

Penulis : Adnan A. Saleh | Editor : Ade